25 Tahun IFRA, Dorong Ekosistem Kemitraan Bisnis yang Makin Legal dan Profesional

Shifter – Peluang bisnis berbasis kemitraan kini semakin mudah ditemukan, mulai dari skema distribusi, lisensi, hingga business opportunity. Namun, beragamnya model kerja sama tersebut membuat calon mitra perlu lebih cermat memahami aspek legal dan karakteristik bisnis yang ditawarkan. Salah satu skema dengan regulasi paling ketat adalah franchise atau waralaba, yang wajib memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) sebagai salah satu indikator legalitasnya.

Dengan demikian, tidak semua bisnis yang menawarkan kemitraan dapat dikategorikan sebagai franchise. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, hingga April 2026 tercatat sebanyak 165 STPW untuk Pemberi Waralaba Dalam Negeri dan 162 STPW untuk Pemberi Waralaba Luar Negeri telah diterbitkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya legalitas dalam bisnis waralaba terus berkembang.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama Dyandra Promosindo kembali menghadirkan The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026. Menginjak penyelenggaraan ke-25, IFRA 2026 akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Hall 7, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City.

Mengusung tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”, IFRA 2026 hadir membawa pesan mengenai pentingnya membangun bisnis kemitraan yang tidak hanya memiliki potensi keuntungan, tetapi juga mengedepankan standar usaha, legalitas, transparansi, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem waralaba sekaligus membuka lebih banyak peluang pertumbuhan bagi UMKM nasional.

Dukungan terhadap penyelenggaraan IFRA 2026 turut disampaikan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag RI, Franciska Simanjuntak, menilai sektor kewirausahaan dan kemitraan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kami dari Kementerian Perdagangan menyambut baik penyelenggaraan IFRA 2026 sebagai upaya mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional, yang rasionya saat ini baru 3,29 persen dan masih tertinggal dari negara tetangga. Sistem waralaba menjadi salah satu jalur strategis karena menawarkan model bisnis yang siap pakai dan terstandardisasi, dan kami menargetkan pertumbuhan waralaba lokal hingga 7 persen tahun ini. Melalui berbagai program seperti Campuspreneur, kami terus mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru yang mendukung ekosistem kemitraan bisnis yang legal dan akuntabel, sejalan dengan semangat IFRA 2026,”

ujar Franciska.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar, menekankan bahwa kekuatan sebuah bisnis waralaba tidak semata-mata terletak pada popularitas merek. Sistem yang solid, business format yang jelas, serta keunikan produk menjadi elemen penting agar bisnis dapat dikembangkan secara konsisten.

Menurutnya, sektor kuliner menjadi salah satu bidang yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui sistem waralaba. Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam, namun masih banyak potensi tersebut yang belum dikembangkan menjadi model bisnis dengan sistem dan standardisasi yang kuat.

“Waralaba itu sebetulnya konsep pemasaran sekaligus strategi perluasan usaha, di mana harus ada business format dan sistem yang jelas di dalamnya. Indonesia punya banyak jenis masakan dan kekayaan kuliner yang masih bisa dikembangkan menjadi usaha. Sangat disayangkan kalau usaha-usaha ini dibangun asal-asalan tanpa sistem yang kuat, padahal di setiap negara, sektor F&B berkontribusi sekitar 50 sampai 55 persen terhadap ekonominya. Jadi kalau mau bicara kemitraan, harus ada keunggulan dan keunikan yang tidak mudah ditiru orang lain. Saya percaya Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan ini, tapi tentu butuh dukungan dari semua pihak,”

jelas Anang.

Melihat semakin besarnya minat masyarakat terhadap bisnis kemitraan, IFRA 2026 juga hadir dengan skala yang lebih luas. Dyandra Promosindo menargetkan kehadiran 250 merek unggulan yang berasal dari 175 perusahaan, dengan jumlah pengunjung mencapai sekitar 30.000 orang secara hybrid.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, mengatakan skala tersebut diharapkan mampu menjadikan IFRA sebagai platform strategis yang mempertemukan pemilik merek, pelaku usaha, calon mitra, hingga calon entrepreneur dalam satu ekosistem.

“Dengan skala tersebut, kami berharap IFRA dapat menjadi ruang temu yang strategis bagi pelaku usaha, pemilik brand, dan calon mitra untuk saling mengenal model bisnis masing-masing, sebelum memutuskan untuk menjalin kerja sama,”

ujar Daswar.

Tidak hanya menghadirkan pameran bisnis, IFRA 2026 juga menyiapkan berbagai program edukatif dan interaktif. Pengunjung dapat mengikuti Business Talkshow, IFRA Women’s Talk, Celebpreneur Talkshow, Retirees Seminar, hingga The 10th IFBCC (IFRApreneur Business Concept Competition).

Sisi interaktif juga diperkuat melalui IFRA Content Clash, Interactive Quiz & Lucky Draw, serta Business Mascot Competition. Beragam kategori bisnis turut meramaikan pameran, mulai dari makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan, hingga berbagai sektor usaha lainnya.

Kehadiran berbagai sektor tersebut memperlihatkan bahwa ekosistem kemitraan kini semakin luas. IFRA 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi brand yang telah berkembang, tetapi juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha baru dan startup lokal untuk memperkenalkan ide sekaligus mencari peluang kolaborasi.

IFBCC 2026 Jadi Panggung Ide Bisnis Generasi Muda

Salah satu agenda yang kembali menjadi bagian penting IFRA 2026 adalah IFRApreneur Business Concept Competition (IFBCC). Memasuki tahun ke-10, kompetisi business plan yang ditujukan bagi mahasiswa ini menjadi wadah untuk menguji sekaligus memperkenalkan ide bisnis baru kepada industri.

Rangkaian IFBCC 2026 telah dimulai sejak proses pendaftaran pada April, kemudian berlanjut melalui tahapan penjurian dan coaching clinic pada akhir Juni. Dari seluruh peserta, terpilih 12 tim terbaik yang kemudian mengerucut menjadi tiga finalis.

Ketiga finalis tersebut adalah:

  • BANASENTRA – Universitas Komputama Cilacap
  • KIDDIENARIES – BINUS University
  • OKANE – Institut Teknologi Bandung

Ketiganya akan mempresentasikan ide bisnis masing-masing melalui sesi final pitch di hadapan juri dan pengunjung IFRA 2026. Pemenang kompetisi selanjutnya akan diumumkan pada rangkaian IFRA Awards & Business Night yang berlangsung pada 30 Agustus 2026 di Main Stage IFRA, ICE BSD City.

Melalui kombinasi pameran, edukasi, networking, dan kompetisi ide bisnis, IFRA 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang mencari peluang usaha. Lebih jauh, penyelenggaraan ini menjadi momentum untuk mendorong terciptanya ekosistem waralaba dan kemitraan yang semakin profesional, transparan, legal, serta mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha baru di Indonesia. (Shifter/ ADP)

Shift into High Gear—Share Now!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top