Jakarta, Shifter – Boleh dibilang, GWM adalah pabrikan asal China yang punya strategi bisnis untuk pasar Indonesia yang agak berbeda dari kompetitor lain senegaranya.
Lihat saja, di saat banyak pabrikan China berlomba-lomba menghadirkan produk dengan energi terbarukan untuk pasar Indonesia, GWM malah dengan percaya diri menghadirkan mobil bermesin diesel.
Ditambah lagi dengan mahalnya harga solar non-subsidi di Indonesia saat ini, membuat keputusan GWM dalam menghadirkan mobil bermesin diesel jadi terkesan nekat atau agak nyeleneh.
Salah satu produk GWM yang mendapatkan jantung pacu ciptaan Rudolf Diesel tersebut ialah Tank 300, dan mobil ini sudah ada di Indonesia sejak tahun lalu.
Sejujurnya, tidak salah kalau GWM mencangkokki mesin diesel pada Tank 300. Karena pemakaian mesin tersebut, ternyata memberikan cukup banyak dampak positif.

Eksterior Sama Persis dengan Varian Hybrid
Sebelum Tank 300 Diesel hadir, GWM lebih dulu memasukkan Tank 300 Hybrid ke Indonesia. Adapun jarak kelahiran antara keduanya adalah satu tahun saja.
Biasanya, mobil yang berbeda varian atau jantung pacu, memiliki perbedaan detail di eksterior. Hal tersebut tidak berlaku pada Tank 300. Sebab, baik yang hybrid ataupun diesel, memiliki tampilan luar yang sama persis.
Hanya saja, untuk menjelaskan dapur pacunya, pada Tank 300 Diesel, terdapat emblem 2.4 T di bagian kiri bawah pintu bagasinya. Selebihnya, sama sekali tidak ada pembedanya lagi.
Bagi kami, tampilan luar Tank 300 Diesel yang identik dengan varian hybrid-nya, bukanlah sebuah masalah. Sebab pada dasarnya, Tank 300 punya tongkrongan yang gagah dan cukup intimidatif.

Interior Juga Sama Persis dengan Varian Hybrid
Setali tiga uang dengan eksteriornya, interior Tank 300 Diesel juga identik dengan saudaranya yang berteknologi hybrid. Lagi, kesamaan ini bukanlah masalah bagi kami.
Kesan gagah di eksterior Tank 300 coba diteruskan ke kabinnya melalui adanya handle di bagian dasbor, yang mana detail tersebut, memang cukup identik dengan mobil-mobil yang biasa dibawa untuk off-road atau adventure.
Selebihnya, interior mobil bersasis tangga ini justru lebih condong ke arah mewah. Selain karena desainnya yang tampak mahal, kesan mewah tersebut juga dihadirkanmelalui material empuk yang hampir membungkus semua bagian kabinnya.
Satu hal lagi yang kami suka dari kabin Tank 300 adalah ia masih punya banyak tombol fisik. Mulai dari pengaturan AC, mode berkendara hingga off-road, semuanya diatur lewat tombol fisik.

Mesinnya Halus dan Bertenaga
Mesin diesel yang dipakai oleh GWM Tank 300 layak disebut istimewa. Karena walau kapasitas dan keluaran tenaganya bukan yang paling besar, tapi performa yang disuguhkannya boleh diadu.
Kapasitas mesin Tank 300 Diesel ialah sebesar 2.4 L. Mesin tersebut menghasilkan tenaga sebesar 179 dk di 3.600 rpm, dan torsi 480 Nm pada rentang 1.500 – 2.500 rpm.
Kendati di atas kertas bukan yang paling superior, tapi tenaga dan torsi yang dimuntahkan oleh Tank 300 Diesel, terasa lebih dari cukup apabila hanya dipakai untuk rute dalam kota ataupun luar kota.
Itu bisa terjadi karena Tank 300 Diesel menggunakan transmisi otomatis sembilan percepatan.
Banyaknya jumlah gigi yang dimiliki, praktis membuat perpindahan giginya bisa terjadi dengan cepat, sehingga membuat mesin bisa mengeluarkan tenaganya secara efektif.
Lalu yang tak kalah penting, mesin diesel milik Tank 300 juga halus. Saat dinyalakan suaranya cenderung pelan, dan sewakti dibawa berjalan, suara mesinnya hampir tak terdengar ke kabin, serta hampir tak ada getarannya.

Perkasa Dalam Off-road
Kami hampir lupa menginformasikan kalau Tank 300 Diesel hadir dalam dua varian, yakni 4×2 dan 4×4. Kebetulan, unit yang kami tes ialah yang 4×4, alias varian termahalnya.
Tentu tidak afdol rasanya kalau kita tidak mengetes mobil 4×4 ke medan off-road. Makanya, kami membawa mobil ini ke area light off-road untuk mengukur ketangguhannya.
Terus terang, sama sekali tidak ada keraguan untuk membawa Tank 300 Diesel ke medan off-road. Benar saja, saat sudah masuk ke area light off-road, semua tantangan yang ada jadi terasa sangat mudah.
Jika obstacle-nya hanya sebatas tanjakan yang miring, kita cukup mengemudi seperti biasa di mode 2H.
Hanya dengan penggerak belakang saja, mobil tetap bisa menanjak dengan sangat mudah, karena gelombang tenaga dan torsinya selalu berdatangan.
Namun, apabila menemui tanjakan yang lebih ekstrem, yang dirasa memerlukan penggerak 4×4, kinerjanya pun sangat terasa. Saat menanjak dalam mode penggerak 4H, ada momen di mana mobil seperti mencari momentum.
Bukan kehilangan tenaga, tapi itu adalah momentum untuk sistem mendistribusikan tenaga ke semua roda. Setelah semua roda mendapatkan tenaga, mobil pun kembali merangkak dengan sangat mudah.
Hanya saja, kami harus akui kalau proses penyaluran tenaga ke semua roda masih belum bisa dibilang sangat mulus. Masih ada hentakan dari kopel yang terasa saat sistem penggeraknya bekerja.

Kesimpulan
Langkah GWM dalam menghadirkan Tank 300 Diesel di Tanah Air boleh saja dibilang melawan arus. Tapi kalau kita analisa lebih dalam, apa yang dilakukan GWM ini terbilang cermat.
Memang, sebelumnya GWM sudah lebih dulu menghadirkan Tank 300 Hybrid ke pasaran. Meski mengusung teknologi hybrid, tak serta-merta membuatnya jadi hemat bahan bakar. Singkatnya, Tank 300 Hybrid terhitung boros untuk sebuah mobil hybrid.
Sadar akan hal tersebut, GWM pun lantas menghadirkan Tank 300 Diesel yang ternyata lebih irit dari yang hybrid, dan tetap punya performa yang impresif.
Serta yang paling penting, Tank 300 Diesel punya harga yang jauh lebih murah daripada Tank 300 Hybrid. Untuk Tank 300 Diesel 4×4, ia dibanderol Rp 699 juta on the road Jakarta, alias lebih murah sekitar Rp 150 juta dari Tank 300 Hybrid.
Oleh karena itu, sah-sah saja rasanya kalau kami anggap GWM telah membuat keputusan yang cermat dalam menghadirkan Tank 300 Diesel ke Indonesia. Karena apa yang kurang dari Tank 300 Hybrid, seolah dilengkapi oleh Tank 300 Diesel.
Hebatnya lagi, GWM bisa menutupi kekurangan Tank 300 Hybrid di Tank 300 Diesel tanpa sedikitpun mengurangi kemewahan dan berbagai kelebihan lainnya yang sudah ada. (Shifter/Nugie)






